JIK-NAH Siap Deklarasi di Harlah 1 Abad NU
JOMBANG, JIK-NAH – Semangat menjadikan Kabupaten Jombang sebagai episentrum nilai-nilai ke-NU-an semakin nyata. Tim Kerja Jombang Ibukota Nahdliyin (JIK-NAH) resmi mengumumkan rencana deklarasi berdirinya Badan Perkumpulan JIK-NAH yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Januari 2026, bertepatan dengan momentum bersejarah Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU).
Ketua Badan Perkumpulan JIK-NAH, Ustadz H. Muhtazuddin, SH, menyampaikan bahwa kehadiran lembaga ini merupakan ikhtiar untuk menjaga kelestarian sejarah. Jombang bukan sekadar pusat santri, melainkan tanah kelahiran para muasis (pendiri) NU dan tokoh-tokoh bangsa yang telah mewarnai peradaban Indonesia.
”Saat ini kami sedang dalam tahap pemantapan persiapan. Insyaallah, deklarasi akan kami gelar akhir Januari ini. Momennya sangat spesial karena berbarengan dengan Harlah 1 Abad NU,” ujar Muhtazuddin saat ditemui di Jombang, Senin (19/1).
Demi menyukseskan agenda besar ini, pengurus JIK-NAH tengah menjalin komunikasi intensif dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) di Kabupaten Jombang. Pihaknya telah mengajukan permohonan audiensi kepada:
- H. Warsubi (Bupati Jombang)
- Gus Salman (Wakil Bupati Jombang)
- H. Hadi Atmaji (Ketua DPRD Jombang
Meski masih menunggu jadwal resmi dari protokol pimpinan daerah terkait surat yang dilayangkan sejak 8 Januari lalu, Muhtazuddin memaklumi padatnya agenda kerja Bupati. Ia optimis pemerintah daerah akan mendukung penuh gerakan yang mengangkat citra positif Jombang ini.
Secara legalitas, JIK-NAH telah mengantongi izin resmi dari Kemenkumham RI. Lembaga ini merupakan kristalisasi dari gagasan awal bernama Forum Jombang Ibukota NU (JIK-NU) yang sebelumnya dicetuskan oleh tokoh-tokoh seperti Ketua PCNU Jombang, Gus Fahmi.
Wacana tersebut kemudian disambut hangat dan dirumuskan kembali oleh para jurnalis berintegritas bersama para tokoh lainnya hingga sepakat membentuk wadah resmi bernama JIK-NAH.
Tujuan fundamental dari JIK-NAH adalah mengkristalisasi nilai-nilai perjuangan para dzurriyah (keturunan) dan muasis NU di Jombang. Hal ini dipandang mendesak agar identitas Jombang sebagai jantung Nahdliyin tidak luntur diterjang perkembangan zaman.
”Kami ingin memastikan bahwa warisan pemikiran dan sejarah para kiai pendiri NU di Jombang tetap menjadi fondasi yang kokoh bagi generasi mendatang,” pungkas Muhtazuddin yang juga merupakan Wakil Ketua PN Ansor Jombang tersebut.
