MINAHASA | BIN 08
Dalam momentum memperingati Hari Pangan Internasional yang jatuh pada 16 Oktober 2025, Tani Merdeka Indonesia DPW Sulawesi Utara menggelar Gerakan Menanam Jagung di Desa Tountinomor, Kabupaten Minahasa. Kegiatan ini menjadi simbol kebangkitan semangat petani lokal dan wujud nyata dukungan terhadap program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
Dengan mengusung semangat “Dari Minahasa untuk Indonesia,” acara ini dihadiri oleh para pengurus dan kader Tani Merdeka dari berbagai wilayah, termasuk Dr. Daniel Palit, SE selaku Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Sulut, Maykel Manorek (Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Minahasa), Ben Malonda (Ketua Korcam Kakas), Denis Maindoka (Ketua Korcam Kakas Barat) dan Petrus Lamongi Anggota Dewan Gerindra Minahasa serta perwakilan pemerintah desa dan kecamatan setempat.
Gerakan Nyata Membangun Pertanian Berkelanjutan
Dalam sambutannya, Dr. Daniel Palit, SE, menegaskan bahwa gerakan menanam jagung ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah konkret dalam membangun fondasi ekonomi daerah berbasis pertanian berkelanjutan.
“Kami tidak ingin berhenti hanya pada kegiatan simbolik. Tani Merdeka Indonesia berkomitmen untuk menggerakkan potensi petani muda, memperkenalkan teknologi pertanian modern, dan memastikan hasil pertanian bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” ungkap Daniel Palit.
Ia menambahkan, Tani Merdeka Indonesia bertekad melahirkan generasi muda yang tangguh dan produktif, yang mampu menjawab tantangan zaman dengan inovasi di bidang pertanian dan pariwisata. Dengan demikian, Minahasa diharapkan dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan Timur Indonesia.
Sinergi Pertanian dan Pariwisata Minahasa
Sementara itu, Maykel Manorek, Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Minahasa, menjelaskan bahwa wilayah Minahasa memiliki potensi besar tidak hanya di sektor pertanian, tetapi juga pariwisata. Menurutnya, kedua sektor ini dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan jika dikelola dengan baik.
“Pertanian yang kuat akan mendukung pariwisata yang berkelanjutan. Bayangkan wisatawan datang dan menikmati keindahan Minahasa sambil melihat langsung bagaimana masyarakat menanam, mengolah, dan memanfaatkan hasil bumi mereka. Ini bukan hanya ekonomi, tapi juga edukasi,” ujarnya penuh semangat.
Gerakan menanam jagung ini juga menjadi ajang untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga ketahanan pangan serta memanfaatkan lahan pertanian secara efisien dan ramah lingkungan.
Dari Desa untuk Kedaulatan Pangan Nasional
Di kesempatan yang sama, Ben Malonda dan Denis Maindoka menegaskan bahwa gerakan ini merupakan bentuk nyata dukungan masyarakat desa terhadap visi besar pemerintah dalam menciptakan kemandirian pangan nasional.
Keduanya menyatakan bahwa Minahasa siap menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengimplementasikan program pertanian terpadu berbasis masyarakat.
“Kami percaya, kedaulatan pangan harus dimulai dari desa. Tani Merdeka hadir untuk membuktikan bahwa desa bisa menjadi motor penggerak ekonomi nasional jika diberikan dukungan dan pendampingan yang tepat,” ujar Ben Malonda.
Harapan dan Langkah ke Depan
Gerakan menanam jagung di Tountinomor diharapkan menjadi titik awal kebangkitan sektor pertanian di Minahasa. Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi seperti Tani Merdeka Indonesia, diharapkan akan lahir lebih banyak inovasi dan model pertanian modern yang berdaya saing tinggi.
Selain memperkuat ketahanan pangan, kegiatan ini juga diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta memperkuat semangat gotong royong masyarakat pedesaan.
Dengan dukungan penuh dari seluruh jajaran pengurus dan masyarakat, Tani Merdeka Indonesia DPW Sulut optimistis bahwa Minahasa akan menjadi salah satu ikon kemandirian pangan nasional, menginspirasi daerah lain untuk bangkit dan berkontribusi bagi Indonesia yang makmur dan berdaulat.
(RED)
