JAKARTA | BIN 08
Dalam sebuah momen penuh makna yang berlangsung di Jakarta, Gubernur Sulawesi Utara menerima Emblem Adat Minahasa dari salah satu tokoh senior Kawanua, Romel Rumambi. Kamis, 31 Juli 2025.
Sosok Rumambi dikenal luas sebagai figur berpengaruh di kalangan masyarakat Minahasa perantauan dan juga sebagai ikon dari Dodutu Golf Club Jakarta, sebuah komunitas yang aktif dalam kegiatan sosial-budaya masyarakat Kawanua di ibu kota.
Pemberian emblem ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan sebuah bentuk penghormatan mendalam terhadap Gubernur atas peran aktif dan kepeduliannya dalam menjaga, melestarikan, serta mempromosikan budaya Minahasa baik di tingkat lokal maupun nasional.
Emblem yang diserahkan terdiri dari berbagai atribut adat yang memiliki nilai simbolis tinggi, seperti hiasan kepala khas Minahasa, kalung, gelang, dan cincin yang semuanya dirancang dengan sentuhan kultural yang kuat, mewakili kekayaan warisan leluhur Minahasa.
Dalam acara tersebut, tampak hadir pula sejumlah tokoh penting dari komunitas Kawanua di Jakarta yang turut memberi dukungan moral dan kebanggaan terhadap momentum ini. Nama-nama seperti Johnny Lumintang dan Carlo Brix Tewu—dua figur yang telah lama dikenal sebagai pemimpin dan panutan di kalangan masyarakat Sulawesi Utara di rantau—tampak mendampingi sang Gubernur.
Selain itu, Gubernur juga didampingi oleh jajaran pemerintah provinsi, termasuk Asisten I Pemprov Sulut, Deny Mangala, yang hadir sebagai bentuk dukungan institusional terhadap kegiatan yang sarat nilai budaya tersebut.
Pemberian simbol kehormatan ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga identitas budaya Minahasa di tengah dinamika modernisasi dan kehidupan urban masyarakat perantauan.
Simbol-simbol adat yang dikenakan oleh Gubernur mencerminkan ikatan emosional dan spiritual antara tanah Minahasa dengan warganya yang tersebar di berbagai penjuru negeri.
Melalui peristiwa ini, tercermin semangat persatuan dan kebanggaan budaya yang tetap mengakar kuat dalam diri masyarakat Minahasa, tak terkecuali mereka yang hidup dan berkarya jauh dari kampung halaman.
Kehadiran Gubernur Sulut dalam balutan atribut adat juga menjadi gambaran nyata bahwa nilai-nilai budaya daerah tidak lekang oleh waktu, bahkan mampu memperkuat jati diri dan integritas kepemimpinan di era sekarang.
Momentum ini bukan hanya sebagai ajang penghormatan kepada seorang pemimpin daerah, namun juga menjadi wujud sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan komunitas diaspora dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya Minahasa, sebagai warisan yang patut dijaga dan diwariskan ke generasi mendatang.
(TIM/RED)
