JAKARTA | BIN 08
Kendaraan berpenggerak empat roda (4WD) kerap dianggap sebagai simbol kemewahan di Indonesia karena terkena pajak tinggi. Padahal, menurut pakar otomotif Reza, teknologi tersebut sejatinya lebih menitikberatkan pada aspek keselamatan berkendara.
Namun, penggunaan mobil SUV berbasis ladder frame, seperti Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport, dinilai tidak ideal untuk dipacu dengan kecepatan tinggi di jalan tol. Hal ini disampaikan oleh Sony Susmana, praktisi keselamatan berkendara sekaligus Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI).
Sony menjelaskan, SUV besar umumnya menggunakan sasis ladder frame, di mana bodi kendaraan tidak menyatu dengan rangka utama, melainkan ditempatkan di atasnya dan disambungkan. Desain seperti ini membuat mobil lebih tinggi sehingga berpotensi mengalami gejala limbung atau bouncing lebih besar dibanding kendaraan dengan sasis monokok.
“Ketika dipacu kencang di jalan tol, kestabilannya tentu tidak sebaik mobil monokok. Hal ini akan sangat memengaruhi handling dan bisa berbahaya jika pengemudi tidak sigap,” ungkap Sony.
Ia menambahkan, bentuk bodi yang tinggi membuat SUV bongsor lebih mudah menangkap angin, baik dari depan maupun samping. Kondisi tersebut meningkatkan risiko selip bahkan terguling saat melaju dalam kecepatan tinggi.
“Kalau soal tenaga mesin, jelas kuat. Tapi kendaraan standar ini memang didesain untuk kenyamanan di jalan raya, bukan untuk adu kecepatan. Balapan SUV itu ada, tapi mobilnya sudah dimodifikasi khusus untuk lintasan,” jelasnya.
Sony menegaskan, jika pemilik SUV ingin menguji performa dalam kecepatan tinggi, sebaiknya dilakukan di sirkuit dengan kondisi aman dan setelah melakukan modifikasi tertentu agar lebih stabil.
(TIM/RED)
