JAKARTA | BIN 08
Insiden yang tidak terduga terjadi ketika Presiden Prabowo mendorong Paspampres karena menghalangi Jenderal Turki untuk berfoto bersama.
Seorang anggota Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) mendapatkan teguran berat dari Presiden Prabowo Subianto pada acara pameran Indo Defence 2025 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada hari Rabu (11/6) yang lalu.
Kejadian ini berlangsung saat Prabowo bersama tamu asing sedang menjelajahi stan perusahaan industri pertahanan dari Turkiye.
Tiba-tiba, seorang jenderal polisi Turki berusaha merangkul Prabowo, namun dengan cepat ditolak keras oleh seorang Paspampres.
Menyadari situasi itu, Prabowo langsung mendorong Paspampres tersebut. Setelah insiden itu, Paspampres tersebut tampak menunduk dan meminta maaf kepada Prabowo.
Sikap Presiden Prabowo
Setelah insiden tersebut, Presiden Prabowo Subianto memberikan penjelasan dalam Bahasa Inggris. Dia menekankan bahwa Indonesia sangat menghargai tamu tanpa menghiraukan dari mana mereka berasal.
Dalam penjelasannya, Prabowo bahkan mengungkit peristiwa kolonialisme yang terjadi di masa lalu.
“Kita sangat menghormati tamu. Saking hormatnya, ada tamu yang beratus tahun tidak mau pergi dari Indonesia. Terpaksa, kita harus berperang.”
“Tapi saya katakan, saya tegaskan, bagi kita perang itu adalah pilihan terakhir,” ujar Prabowo.
Penandatanganan Kerjasama Indonesia-Turki.
Acara itu sekaligus menjadi momen untuk penandatanganan nota kesepahaman Memorandum of Understanding (MoU) antara Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI dan Sekretariat Industri Pertahanan Republik Turkiye.
Kedua negara sepakat untuk bekerjasama dalam pengembangan jet tempur generasi kelima Turkiye, yang dikenal dengan KAAN.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo Subianto turut menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman yang dilakukan oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Sekretaris Industri Pertahanan Turkiye, Haluk Gorgun.
(RED)
