JOMBANG | BIN 08
Era pasar kumuh di Ploso resmi ditutup. Pemerintah Kabupaten Jombang menegaskan arah baru penataan ekonomi rakyat dengan membuka Pasar Buah Ploso, Rabu (7/1/2026) pagi, di kawasan Sub Terminal Ploso, tepat di depan Pasar Ploso.
Mewakili Bupati Jombang Warsubi, S.H., M.Si., Wakil Bupati Salmanudin S.Ag., M.Pd menandai langsung dimulainya operasional pasar yang diklaim modern, bersih, dan tertib. Peresmian ini bukan sekadar seremoni, melainkan peringatan keras bahwa praktik berdagang di bahu jalan tak lagi ditoleransi.
Pasar Dibangun, Disiplin Ditegakkan
Pasar Buah Ploso dirancang untuk menghapus wajah lama Ploso yang selama ini identik dengan semrawut, macet, dan kumuh. Pembangunan rampung akhir 2025, dengan tujuan jelas: menaikkan kelas pedagang sekaligus menertibkan kawasan.
Dalam arahannya, Gus Wabup menegaskan tiga instruksi kunci yang bersifat wajib:
- Kebersihan adalah kewajiban, bukan imbauan.
- Masalah pedagang diselesaikan lewat paguyuban, bukan ego kelompok.
- Larangan mutlak berjualan di jalan dan halaman depan, tanpa kompromi.
“Kalau pasar ingin hidup, maka kebersihan dan ketertiban harus ditegakkan. Tidak boleh lagi ada yang jualan sembarangan lalu mengeluh pembeli sepi,” tegas Salmanudin.
Digitalisasi Retribusi: Celah Lama Ditutup
Kepala Disdagrin Jombang, Drs. Suwignyo, M.Si., menyatakan proyek ini dikawal sejak awal, termasuk pendampingan teknis dan pengawasan Aparat Penegak Hukum (APH). Pengelolaan pasar tidak lagi dibiarkan berjalan longgar.
Sebagai bentuk reformasi tata kelola, E-Retribusi mulai diterapkan. Sistem ini menutup ruang manipulasi, memastikan transparansi, serta mempermudah pedagang dalam kewajiban administrasi.
Dampak Langsung Terasa
Penataan Pasar Buah Ploso langsung membawa perubahan nyata:
- Akses jalan lebih lancar, kemacetan berkurang drastis.
- Keamanan kawasan meningkat, dijaga Forkopimcam Ploso selama 24 jam.
- Aktivitas ekonomi lebih tertata, memberi kepastian usaha bagi pedagang.
Peresmian ditutup dengan langkah simbolik namun tegas. Gus Wabup turun langsung meninjau kios-kios, menyapa pedagang, sekaligus memborong buah dagangan sebagai sinyal bahwa pasar ini harus hidup—bukan sekadar bangunan baru.
Pesan pemerintah jelas : fasilitas sudah disiapkan, aturan ditegakkan, kini giliran pedagang dan pengelola membuktikan kedisiplinan. Jika gagal, wajah lama Ploso bisa kembali. Jika patuh, pasar ini akan menjadi model penataan ekonomi rakyat di Jombang Utara.
(Brown)


















