MINAHASA SELATAN | BIN 08 – Konflik hukum yang melibatkan Anak Semuel di Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, kini memasuki babak krusial dengan adanya indikasi ancaman kekerasan dan laporan polisi yang kontroversial.
Orang tua Semuel, Venylia Waroka dan Roly Kakiay, melalui kuasa hukum mereka, menegaskan komitmen untuk menempuh jalur hukum demi mencari keadilan atas dugaan pembunuhan karakter dan dampak psikologis yang dialami putra mereka.
Permasalahan ini bermula ketika oknum berinisial CW alias Chenny menuduh Semuel sebagai pelaku pengrusakan pipa air. Tuduhan ini, menurut Venylia Waroka, sama sekali tidak berdasar. Yang lebih mengkhawatirkan, Chenny juga melontarkan ancaman kekerasan terhadap Samuel.
“Dia bilang ‘tunggu ngana sadiki Leh ngana kita mo pukul’,” ungkap Venylia, menirukan perkataan Chenny yang mengancam akan memukul anaknya.
Ancaman ini menjadi sorotan serius mengingat Chenny juga diketahui pernah memukul anak lain dalam kasus serupa.
Venylia Waroka membantah keras narasi yang menyebutkan ia dan suaminya berteriak-teriak di rumah warga. Ia menjelaskan bahwa mediasi telah dilakukan dengan melibatkan pemerintah desa, yaitu Kepala Lingkungan (Pala), untuk menyelesaikan masalah ini secara musyawarah.
“Kalau kami berteriak-teriak, kenapa torang libatkan pemerintah Desa yaitu Pala untuk menyaksikan pembicaraan kami?” tanya Venylia
Ia melanjutkan, “Kami sesalkan, kami rasa karena sudah ada pemerintah Desa yang menyaksikan pembicaraan kami, kami anggap masalah sudah selesai, karena sudah terbukti bahwa yang dituduhkan kepada anak kami tidak benar.”
Namun, keesokan harinya, keluarga Semuel justru terkejut setelah menerima kabar bahwa CW alias Chenny telah melaporkan mereka ke kepolisian.
“Sebenarnya yang harusnya melapor itu siapa?” ujar Venylia, menunjukkan kebingungannya atas situasi yang berbalik ini.
Tuduhan tak berdasar dan ancaman yang dilontarkan Chenny tidak hanya mencoreng nama baik keluarga, tetapi juga membawa dampak serius pada Samuel. “Pemberitaan dan tuduhan tersebut telah mencemarkan nama baik keluarga serta membawa nama profesi saya (sebagai Dokter) dan memberikan dampak buruk secara psikologis,” jelas Venylia.
Semuel sendiri dikabarkan mengalami trauma mendalam akibat tekanan dan teriakan yang terus-menerus dilakukan oleh oknum tersebut.
Viane Mamesah, selaku kuasa hukum dari Venylia Waroka, menegaskan bahwa pihaknya akan menempuh jalur hukum terkait ancaman yang dilontarkan oleh CW alias Chenny.
“Terkait pengancaman itu kami akan mengikuti jalur hukum,” ujar Viane dengan tegas.
“Oknum CW alias Chenny harus taat hukum, jangan semena-mena,” tambahnya menekankan pentingnya kepatuhan terhadap hukum bagi semua pihak.
Didampingi oleh kuasa hukum, keluarga anak Semuel kini siap memperjuangkan keadilan. Mereka tidak hanya akan memperkarakan masalah pembunuhan karakter dan dampak mental yang dialami anak mereka, tetapi juga ancaman kekerasan serta laporan polisi yang dinilai tidak berdasar, demi kejelasan hukum dan pemulihan nama baik keluarga serta kondisi psikologis Semuel.
Kasus ini diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk tidak bertindak semena-mena dan selalu mengedepankan kebenaran serta proses hukum yang berlaku.
(DDM)


















