MINAHASA SELATAN | BIN 08
Semangat bela negara dan penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa kembali diteguhkan melalui pelaksanaan Upacara Bela Negara yang dirangkaikan dengan Peringatan Hari Ibu di SMKN 1 Amurang, yang digelar khidmat di halaman upacara sekolah tersebut.
Upacara ini diwajibkan diikuti oleh seluruh guru SMKN 1 Amurang yang berjumlah 74 orang, sebagai bentuk kedisiplinan, tanggung jawab moral, serta komitmen bersama dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan pendidikan. Kebijakan tersebut ditegaskan langsung oleh Kepala Sekolah SMKN 1 Amurang, Jevie Maliangkay, S.Pd, yang sekaligus bertindak sebagai pembina upacara.
Dalam amanatnya, Jevie Maliangkay menekankan bahwa upacara ini tidak sekadar kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum refleksi sejarah dan penguatan jati diri bangsa, khususnya bagi dunia pendidikan.
“Saya terinspirasi oleh semangat persatuan para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia, yang dengan kesadaran kolektifnya kemudian memprakarsai terselenggaranya Kongres Perempuan Indonesia,” ujar Jevie Maliangkay di hadapan peserta upacara.
Kepala sekolah menjelaskan bahwa Hari Ibu di Indonesia memiliki akar sejarah yang kuat dan bermakna politis, bukan sekadar perayaan domestik.
Ia mengingatkan bahwa perjuangan perempuan Indonesia telah tercatat sejak awal abad ke-20, ketika berbagai organisasi perempuan mulai tumbuh seiring bangkitnya kesadaran nasional.
Tonggak penting sejarah tersebut adalah Kongres Perempuan Indonesia pertama yang diselenggarakan pada 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta, yang menjadi simbol persatuan perempuan dari berbagai latar belakang daerah, organisasi, dan pemikiran. Kongres ini menjadi ruang perjuangan bersama dalam memperjuangkan kemerdekaan, pendidikan, martabat perempuan, serta keadilan sosial.
Perjuangan tersebut tidak berhenti di sana.
Jevie Maliangkay juga menegaskan bahwa Kongres Perempuan Indonesia kembali berlanjut pada tahun 1938 di Bandung, sebagai bukti konsistensi dan kesinambungan perjuangan perempuan Indonesia dalam memperkuat peran strategisnya bagi bangsa dan negara.
“Perjuangan perempuan Indonesia berlanjut dengan terselenggaranya Kongres Perempuan Indonesia di Bandung pada tahun 1938,” tegas Jevie.
Lebih lanjut, Jevie Maliangkay menjelaskan bahwa peringatan Hari Ibu dimaksudkan untuk senantiasa mengingatkan seluruh rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, akan makna mendalam Hari Ibu sebagai simbol kebangkitan persatuan, kesatuan, dan perjuangan bangsa.
Menurutnya, pendidikan memiliki peran strategis dalam meneruskan nilai-nilai tersebut agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Guru, sebagai teladan utama di sekolah, diharapkan mampu mentransformasikan semangat perjuangan dan bela negara kepada peserta didik melalui sikap, keteladanan, dan pembelajaran sehari-hari.
Pelaksanaan upacara di halaman SMKN 1 Amurang berlangsung tertib dan penuh khidmat.
Seluruh peserta mengikuti rangkaian upacara dengan sikap disiplin, mencerminkan komitmen bersama untuk menegakkan nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, serta penghargaan terhadap sejarah.
Pihak sekolah menilai bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dari pendidikan karakter, sekaligus penguatan wawasan kebangsaan di tengah tantangan globalisasi dan perubahan sosial yang cepat.
Dengan digelarnya upacara bela negara dan peringatan Hari Ibu ini, SMKN 1 Amurang menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya fokus pada pengembangan kompetensi kejuruan, tetapi juga pada pembentukan karakter, nasionalisme, dan kesadaran sejarah bagi seluruh warganya.
(Dm Komaling)



















