banner 728x250

Kalawiran Airfield, Jejak Lapangan Terbang Peninggalan Belanda di Langowan yang Kini Jadi Hamparan Sawah

banner 120x600
banner 468x60

MINAHASA | BIN 08

Di balik tenangnya hamparan sawah di wilayah Kalawiran (Kakas) hingga Karondoran (Langowan), Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, tersimpan kisah bersejarah tentang keberadaan lapangan terbang peninggalan Belanda yang pernah menjadi bagian penting dalam strategi militer pada masa lampau.

Lapangan udara tersebut dikenal dengan nama Kalawiran Airfield atau Langowan Aerodrome (Manado 2).

banner 325x300

Menurut sejumlah sumber sejarah, lapangan udara ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa menjelang Perang Dunia II, sekitar akhir 1930-an hingga awal 1940-an. Fasilitas tersebut digunakan sebagai pangkalan pendukung pertahanan udara di wilayah timur Hindia Belanda, yang saat itu menjadi jalur strategis penghubung antara Manado dan wilayah pasifik.

Kalawiran Airfield memiliki landasan pacu berpermukaan tanah keras, dengan area terbuka yang cukup luas untuk mendaratkan pesawat-pesawat kecil pengintai dan pesawat tempur ringan. Lapangan ini dikenal sebagai bagian dari jaringan pangkalan udara Belanda di Sulawesi, bersama Lapangan Udara Mapanget (Manado 1) dan Langowan (Manado 2) yang berfungsi sebagai cadangan operasional.

Saksi Bisu Perang Dunia II

Ketika Jepang melancarkan serangan ke wilayah Indonesia pada awal tahun 1942, Kalawiran Airfield diduga turut menjadi sasaran pengintaian dan penyerangan udara. Beberapa catatan sejarah menyebutkan, lapangan ini sempat digunakan secara terbatas oleh Pasukan Sekutu untuk operasi pengamatan udara di wilayah utara Sulawesi.

Namun, seiring berjalannya waktu dan berakhirnya masa perang, keberadaan lapangan terbang ini mulai memudar. Area yang dulunya digunakan untuk aktivitas militer perlahan ditinggalkan dan kemudian beralih fungsi menjadi lahan pertanian produktif, yang kini dikenal sebagai hamparan sawah Kalawiran–Karondoran.

Meski tidak lagi menyisakan bangunan atau landasan yang utuh, sisa-sisa sejarahnya masih dapat ditelusuri melalui foto udara arsip Museum Australia (Australian War Memorial) dari masa Perang Dunia II, serta dokumentasi yang tersimpan di Kantor TNI Angkatan Udara Kalawiran.

Nilai Sejarah yang Perlu Dilestarikan

Kalawiran Airfield kini menjadi bagian dari memori kolektif sejarah penerbangan dan kolonial di Minahasa. Bagi masyarakat setempat, keberadaannya menjadi bukti bahwa daerah ini pernah memiliki peran penting dalam jaringan pertahanan udara Belanda di masa perang.

Beberapa pemerhati sejarah lokal bahkan mendorong agar lokasi bekas lapangan udara ini dapat ditandai sebagai situs sejarah lokal, untuk mengingat kembali peran Minahasa dalam dinamika militer Hindia Belanda.

“Kalau dilihat dari topografi dan bentuk lahannya, masih bisa dibayangkan bagaimana pesawat-pesawat dulu mendarat di tempat ini,” ujar Jim-Yon seorang pemerhati sejarah di Langowan.

Kini, di atas lahan yang dulunya menjadi tempat pesawat-pesawat beroperasi, tumbuh padi hijau yang subur. Pemandangan itu menjadi simbol perubahan zaman — dari area militer kolonial menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat petani Minahasa.

(DOSAN)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *