Anggaran seragam DPRD Jombang Rp470 juta dikritik tajam. Dr. Sholikin Ruslie sebut pejabat hilang empati di tengah sulitnya ekonomi rakyat.
JOMBANG, BIN08 – Lagi-lagi urusan “Sardin” alias Seragam Dinas bikin publik geleng-geleng. Di saat nyari loker susahnya minta ampun dan harga kebutuhan pokok makin “seret”, anggaran seragam DPRD Jombang yang tembus Rp470 juta ini bener-bener berasa kayak disamber petir di siang bolong.
Pakar Hukum Dr. Sholikin Ruslie, S.H., M.H., nggak mau tinggal diam. Sambil nyantai di warung kopi tempat rakyat biasa sambat, Ruslie kasih analisis yang rasional tapi tetep “pedes”. Menurutnya, secara aturan emang boleh, tapi secara moral? Nanti dulu, Jumat (12/3/2026).
Wibawa Bukan dari Jas, Tapi dari Beras (Rakyat)!
Cak Ruslie panggilan akrabnya, negasin kalau wibawa itu dateng dari kinerja yang nyata, bukan dari mahalnya kain jas yang nempel di badan.
”Hukum itu nggak kerja di ruang hampa. Kalau dewan manusia, mestinya punya feeling lah sama ekonomi sekarang. Jangan cuma saklek bahas hak administratif, tapi buta sama kondisi rakyat yang lagi megap-megap,” celetuk Ruslie.
Dirinya nambahin, nggak ada urgensinya ganti seragam tiap tahun. Harusnya, anggaran segede itu bisa di-pivot alias dialihin buat urusan yang lebih “darurat”, kayak modal usaha buat UMKM atau program padat karya biar warga punya kerjaan.
Logika Terbalik: Pajak Rakyat Buat Gaya Pejabat?
Poin yang paling bikin nyesek adalah soal skala prioritas. Di kacamata kebijakan publik, anggaran rutin ini dianggap bukti kalau sense of crisis pejabat kita lagi lowbat. Apalagi pemenang tender orang luar daerah, makin jauh deh perputaran duitnya dari kantong rakyat Jombang sendiri.
”Rakyat itu pemilik sah kedaulatan, bukan pengemis kebenaran. Banggar harusnya cerdas baca suasana kebatinan publik. Pangkas yang nggak penting, kasih ke yang lebih butuh. Jangan sampe rakyat ngerasa cuma dibutuhin pas nyoblos doang!” tutup Ruslie. (brown)


















