banner 728x250
Opini  

Normalisasi yang Menyimpang dan Degradasi Kepemimpinan di Indonesia

BROWN
banner 120x600
banner 468x60

BIN08 – Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik Indonesia dihadapkan pada fenomena yang mengkhawatirkan: penyimpangan etika oleh pemimpin yang kian dianggap biasa. Pernyataan kontroversial, konflik kepentingan, hingga dugaan penyalahgunaan kekuasaan tidak lagi memicu kegaduhan moral yang berarti. Publik bereaksi, tetapi cepat lupa. Inilah tanda kuat dari normalisasi yang menyimpang yang berkelindan dengan degradasi kepemimpinan.

Di Indonesia, pemimpin tidak hanya berperan sebagai pengambil kebijakan, tetapi juga simbol nilai. Namun, ketika etika diperlakukan sebagai formalitas dan pelanggaran dianggap sekadar dinamika politik, maka pesan yang sampai ke masyarakat sangat problematis: moralitas bisa dinegosiasikan. Prinsip keadilan, transparansi, dan kepantasan perlahan tergeser oleh logika kekuasaan dan kepentingan.

banner 325x300

Kita kerap mendengar pembelaan bahwa pelanggaran tertentu “tidak melanggar hukum”, seolah hukum adalah satu-satunya standar benar dan salah. Padahal, kepemimpinan tidak berhenti pada legalitas, melainkan juga legitimasi moral. Ketika pemimpin abai terhadap etika, publik dipaksa menurunkan ekspektasi moralnya sendiri. Yang awalnya dianggap mencederai nurani, lama-lama diterima sebagai bagian dari sistem.

Budaya politik yang permisif memperparah keadaan. Kritik sering dibalas dengan delegitimasi, bukan klarifikasi. Mereka yang mempertanyakan etika kebijakan dicap tidak nasionalis, tidak realistis, atau memiliki agenda tersembunyi. Akibatnya, ruang diskusi moral menyempit, digantikan oleh loyalitas buta terhadap figur atau kelompok. Dalam iklim seperti ini, kepemimpinan kehilangan fungsi korektifnya.

Media dan media sosial turut berkontribusi. Alih-alih mendorong akuntabilitas, perbincangan publik sering terjebak pada sensasi dan polarisasi. Isu etika direduksi menjadi konflik kubu, bukan persoalan nilai. Publik sibuk memilih siapa yang dibela, bukan apa yang seharusnya dibenarkan. Normalisasi pun semakin mengakar.

Dampaknya terasa hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. Ketika keteladanan di puncak kekuasaan melemah, praktik serupa menjalar ke birokrasi, institusi pendidikan, bahkan relasi sosial sehari-hari. Ketidakjujuran, oportunisme, dan sikap mengabaikan terhadap kepentingan bersama menjadi semakin lumrah. Degradasi kepemimpinan akhirnya bertransformasi menjadi degradasi moral kolektif.

Masalah ini bukan semata soal individu yang gagal menjaga integritas, melainkan kegagalan bersama dalam menolak penyimpangan. Kepemimpinan yang dibiarkan tanpa standar etika akan terus mereproduksi krisis moral. Diam, apatis, dan pembenaran adalah pupuk terbaik bagi normalisasi yang menyimpang.

Indonesia tidak kekurangan pemimpin yang cakap secara teknis, tetapi kepemimpinan sejati menuntut lebih dari sekadar kecakapan. Ia menuntut keberanian moral. Selama masyarakat masih menoleransi penyimpangan demi kenyamanan politik jangka pendek, selama itu pula degradasi kepemimpinan akan terus berulang.

Normalisasi yang menyimpang harus dihentikan dengan satu sikap mendasar: mengembalikan etika sebagai tolok ukur kepemimpinan. Bukan untuk menjatuhkan siapa pun, tetapi untuk memastikan bahwa kekuasaan tetap memiliki arah moral. Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi oleh nilai apa yang kita biarkan mereka langgar.

Oleh: Ronny Brown

Redaksi: BIN08

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *